<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436782417100834</id><updated>2011-10-13T09:04:40.824+08:00</updated><category term='Fiqh Islam'/><category term='Isu Global'/><category term='Diary'/><category term='Pendidikan'/><category term='Techno'/><category term='Sains Islam'/><title type='text'>TORE LENGGI</title><subtitle type='html'>Tempat Menepi, Mengasah Diri</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://torelenggi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436782417100834/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://torelenggi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Cak Arifin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10604346682999002569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_YvvleS8SBWM/SfPBlxm7_oI/AAAAAAAAAD0/2FJ9k0rmBvs/S220/arifin_photo.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436782417100834.post-1790943456244054396</id><published>2010-08-08T05:19:00.004+08:00</published><updated>2010-08-08T05:20:04.916+08:00</updated><title type='text'>Manusia Terbodoh</title><content type='html'>Rupanya saya datang terlalu awal. Di rumah kontrakan yang sekaligus jadi tempat usaha itu hanya terdapat beliau dan beberapa sanak saudara yang sibuk menyiapkan makanan untuk acara tahlilan ba’da Isya’ nanti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cak Mat (sebut saja demikian) adalah seorang pengusaha sukses di Manado. Pendapatan per harinya bisa untuk beli tiket PP Manado – Surabaya. Tujuh hari yang lalu anak kembar beliau meninggal 6 jam setelah dilahirkan dari rahim sang ibu. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Meski beliau tahu bahwa saya dari madzhab anti-tahlilan, beliau tetap mengundang saya di tujuh hari anaknya untuk acara taushiyah ba’da tahlilan. Kita—ummat Islam—mudah untuk bertoleransi dengan orang yang berbeda agama. Tetapi sulit mentolerir perbedaan sesama ummat Islam. Manado telah mengajari kami bertoleransi dengan baik. Dengan non-muslim dan sesama muslim.&lt;br /&gt;Ditemani setengah gelas kopi dan sepiring kue nagasari, dengan mata merah membendung air mata, beliau rela membuka kisah sedih 7 hari silam. “Kedua anak saya lahir prematur 6 bulan”, beliau mengawali kisahnya dengan tarikan nafas sangat dalam. “Waktu itu, jam 12 malam, istri saya sudah menangis-nangis karena sakit di perutnya”. Frame demi frame beliau ceritakan dengan sangat detail. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak saya lahir jam 1 lebih 5 menit. Seketika itu pula rumah sakit tempat istri saya melahirkan jadi gempar. Inkubator besar dan berat didatangkan. Tabung oksigen yang tak kalah besar dan beratpun dibariskan. Dokter dan perawat bergegas, berseliweran, menjalankan&amp;nbsp; kerja sesuai dengan prosedur yang telah mereka kenal. Tadi saya hanya mendengar suara rintihan istri saya, sekarang tiba-tiba ribut luar biasa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dokter-dokter itu jelas mempunyai pengetahuan yang lebih luas ketimbang saya dalam hal medis. Setahu saya, bayi yang dilahirkan di bawah tujuh bulan kornea matanya masih belum terbentuk dengan sempurna. Kadar oksigen yang tidak stabil di dalam inkubator sudah cukup membuat seorang bayi&amp;nbsp; buta seumur hidupnya”.&amp;nbsp; Jelas beliau dengan dada naik turun menahan emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jam 7 lewat&amp;nbsp; 12 anak pertama saya meninggal, dan anak kedua saya menyusul 30 menit kemudian”, dan air mata yang beliau tahan dengan sekuat tenaga pun jatuh.&amp;nbsp; Saya hanya menahan nafas sambil membesarkan hati beliau dengan kata-kata yang saya sendiri tak yakin apakah beliau mampu mendengarnya di tengah guncangan emosi semacam ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang saya rasakan saat itu adalah betapa bodohnya&amp;nbsp; manusia di hadapan Tuhan”, beliau pun melanjutkan dengan perkataan yang saya tak tahu kemana arahnya. “Kedua anak saya, enam bulan di perut ibunya. Enam bulan dibawa kemana-mana. Ke pasar, ke sekolah, masih sempat bersihkan rumah, membantu saya bekerja, semuanya normal. Dan sayapun menganggap itu normal”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya baru menyadari&amp;nbsp; kehebatannya begitu Allah menyerahkan masalah pemeliharaan bayi ini kepada manusia. Begitu bayi 6 bulan itu diserahkan pemeliharaannya pada manusia. Ahli diturunkan, mesin bertekhnologi tinggi yang rakus listrik didatangkan. Semua sibuk dan bergegas. Namun anak saya cuma bertahan enam jam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“6 bulan Allah memelihara anak saya dalam rahim ibunya, semuanya tenang. Dan seandainya Allah berkehendak memeliharanya selama 9 bulan, semuanya pasti akan normal dan tenang. Allah memelihara bayi di rahim ibunya yang hanya seukuran balon ulang tahun. Tak butuh ruangan besar, tak butuh suplai energy besar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya bersukur Allah membukakan mata hati saya untuk melihat betapa bodohnya manusia di hadapan-Nya. Sungguh jika ada manusia yang tak mampu melihat kerendahan dirinya, kefakiran dirinya, kebodohan dirinya, maka ialah manusia terbodoh”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436782417100834-1790943456244054396?l=torelenggi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://torelenggi.blogspot.com/feeds/1790943456244054396/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://torelenggi.blogspot.com/2010/08/manusia-terbodoh.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436782417100834/posts/default/1790943456244054396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436782417100834/posts/default/1790943456244054396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://torelenggi.blogspot.com/2010/08/manusia-terbodoh.html' title='Manusia Terbodoh'/><author><name>Cak Arifin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10604346682999002569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_YvvleS8SBWM/SfPBlxm7_oI/AAAAAAAAAD0/2FJ9k0rmBvs/S220/arifin_photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436782417100834.post-3764516482616999265</id><published>2009-12-28T07:12:00.004+08:00</published><updated>2010-07-31T15:13:37.194+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Berkaca Pada Ngruki</title><content type='html'>Jikalau memang Ponpes al-Mukmin Ngruki&amp;nbsp; memasukkan Jihad sebagai bagian dari kurikulum pendidikannya, betapa luar biasa sistem pendidikan disana. Setidaknya ada 5 orang alumni al-Mukmin yang terlibat dalam berbagai aksi “terorisme”. Sebut saja Faturohman Al Ghozi, lulusan Ngruki tahun 1986 yang tewas ditembak di Philipina. Lantas Ali Gufron alias Muklas terpidana mati Bom Bali I juga lulusan pesantren ini. Selain itu juga Arief Sunarno alias Zulkaraen, si Panglima Laskar Askyari Jamaah Islamiyah. Dan tentu saja Asmar Latin Sani dan Nur Sahid, keduanya adalah pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriot.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap akhir tahun ajaran, hampir seluruh elemen pendidikan bangsa ini mencaci maki UNAS, yang katanya mereduksi pendidikan hanya sekedar angka. Menafikan nilai, akhlaq, dan etos belajar siswa. Sekolah hanya mentransfer ilmu, bukannya mentransformasikan nilai. Artifisial, jauh dari substansial. Bangsa ini sibuk menseminarkan, apakah siswi yang hamil di luar nikah boleh ikut ujian atau tidak? Dengan realita demikian, maka tidaklah mengherankan, jika lulusan perguruan tinggi sekelas ITB sekalipun hanya menghasilkan gerombolan koruptor yang terdidik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngruki adalah anti-tesis dari semua kebobrokan sistem pendidikan modern bangsa ini. Ngruki bukanlah pesantren modern. Sistem pengajarannya pun klasikal, tidak ada Quantum Learning disana. Tapi out put pendidikannya membua tercengang. Mereka bisa menghasilkan lulusan berkualitas martir. Tidak pernah berpikir mendapat apa, tapi selalu bertanya apa yang bisa diberikan untuk apa yang diperjuangkan. Bukankah ini ultimate goal dari semua institusi pendidikan. Tak peduli Islam, Kristen, Yahudi, sekuler, ataupun komunis. Semuanya berharap bahwa pendidikan mereka mampu menciptakan kader yang militan bukan kader meletan (jawa: menjulurkan lidah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan di atas melampaui tujuan-tujuan pendidikan yang lain. Suatu yang baik jika sebuah institusi pendidikan bertujuan menciptakan alumni yang berjiwa enterprenuer. Daripada hanya sekedar mencetak mesin pembawa ijazah, yang satu-satunya harapan hidup yang dimilikinya adalah agar ia lulus ujian PNS tahun depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, jika kita berkecimpung di sebuah lembaga, organisasi, harakah, jama’ah atau apapun namanya, sesungguhnya hidup mati suatu lembaga tidak bergantung pada jumlah tehnokrat dan enterprenurnya. Tapi, sekali lagi, hidup dan mati sebuah lembaga bergantung pada seberapa banyak dan besar anggota yang mau berkorban untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436782417100834-3764516482616999265?l=torelenggi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://torelenggi.blogspot.com/feeds/3764516482616999265/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://torelenggi.blogspot.com/2009/12/berkaca-pada-ngruki.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436782417100834/posts/default/3764516482616999265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436782417100834/posts/default/3764516482616999265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://torelenggi.blogspot.com/2009/12/berkaca-pada-ngruki.html' title='Berkaca Pada Ngruki'/><author><name>Cak Arifin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10604346682999002569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_YvvleS8SBWM/SfPBlxm7_oI/AAAAAAAAAD0/2FJ9k0rmBvs/S220/arifin_photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436782417100834.post-5859758433027206990</id><published>2009-12-21T17:39:00.002+08:00</published><updated>2010-07-31T15:15:28.877+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Teknik Memaksa Tuhan (100 % Berhasil)</title><content type='html'>"Pertama, berprasangka baiklah kepada Allah. Yakinlah bahwa seburuk apapun nasib dan musibah yang menimpa, adalah sebuah skenario terbaik rancangan-Nya, Kholiq yang tak pernah menzalimi hamba-Nya. Lakukan tahap ini sepenuh jiwa. Tahap ini dikategorikan sukses jika kita telah merasa ridho terhadap segala keputusan-Nya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat yang satu ini terus “menceramahi” saya sambil mengepulkan asap rokok “dua tiga empat” dari mulutnya. Di kantornya yang ber-AC dia tak pernah berhenti merokok. Ketika saya tibapun di asbak sudah terdapat 5 puntung rokok.Mempersilahkan saya duduk, plus membuka jendela kantor demi “menghormati” tamunya yang anti-rokok.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Dia mengambil asbak, membuang isinya ke kantong sampah. Kemudian ia melanjutkan. "Kedua, dan ini tahap terakhir,&amp;nbsp; adalah memasrahkan seluruhnya kepada Allah. Dalam setiap doa, pasrahkanlah seluruh hasilnya kepada Allah. Karena Allah terus-menerus mengurus setiap keperluan makhluk-Nya. Bukanlah urusan kita untuk memikirkan diri kita sendiri. Urusan kita adalah memikirkan Tuhan. Dan urusan Tuhan-lah untuk memikirkan kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai berteori, kini saatnya testimoni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya sudah berkali-kali mempraktikkan teknik ini, dan selalu berhasil. Ketika anak pertama saya divonis lumpuh pasca operasi karena kecelakaan, saya berdoa, dan alhamdulillah ia kembali normal. Dalam karier, kesehatan, dan keluarga, teknik ini selalu berhasil. Sekali lagi selalu berhasil."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua alis saya menyatu mendengar keyakinannya. Dan dia menganggapnya sebagai isyarat ketidakpercayaan. Dia pun kembali berujar berusaha kembali meyakinkan pendengar setianya. “Dulunya sih saya pernah gagal. Tapi bukan karena teknik ini tidak efektif, tapi karena saya gagal memenuhi seluruh prosedurnya. Saya tidak ikhlas dan saya kurang pasrah. Logika masih mendominasi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi seiring waktu berjalan, saya dapat merasakan kualitas ikhlas dan pasrah dalam setiap doa saya. Meskipun ini bersifat personal dan subyektif, tapi begitu kita sekali merasakannya, maka itu akan menjadi sebuah pengalaman spiritual yang luar biasa dan bukan menjadi hal yang sulit untuk mengulangnya”.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Akhirnya paparan teman saya inipun terhenti oleh klakson mobil yang sejak tadi kami tunggu. Mobil yang akan mengantar rombongan takziyah, melayat salah seorang jama’ah kami yang ditinggal oleh bapaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama di dalam mobil kami bungkam. Saya pun membenak dalam hati. Ikhlas dan pasrah adalah password agar doa kita terkabul. Hanya saja indikator ikhlas dan pasrah masih belum jelas terdefinisikan. Sehingga ketika doa seseorang tidak terkabul, kita masih bisa berdalih bahwa ia kurang ikhlas dan kurang pasrah. Pendeknya, ikhlas dan pasrah bersifat kualitatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di abad XXI ini ikhlas dan pasrah telah berevolusi menjadi sesuatu yang bersifat kuantitatif. Prof. Sholeh dapat mengukur keihklasan seseorang secara presisi berdasar kandungan kortisol pada darah seseorang. Erbe Sentanu, mampu mengukur kepasrahan seseorang secara tepat berdasar jenis gelombang yang dipancarkan oleh otak si pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan mustahil, beberapa tahun yang akan datang akan ada ikhlasometer (pengukur ikhlas) dan pasrahometer (pengukur pasrah). Dan ketika ikhlasometer dan pasrahometer menunjukkan nilai yang tinggi. Maka kita punya dokumen hitam di atas putih untuk memaksa Tuhan mengabulkan doa kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436782417100834-5859758433027206990?l=torelenggi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://torelenggi.blogspot.com/feeds/5859758433027206990/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://torelenggi.blogspot.com/2009/12/teknik-memaksa-tuhan-100-berhasil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436782417100834/posts/default/5859758433027206990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436782417100834/posts/default/5859758433027206990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://torelenggi.blogspot.com/2009/12/teknik-memaksa-tuhan-100-berhasil.html' title='Teknik Memaksa Tuhan (100 % Berhasil)'/><author><name>Cak Arifin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10604346682999002569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_YvvleS8SBWM/SfPBlxm7_oI/AAAAAAAAAD0/2FJ9k0rmBvs/S220/arifin_photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436782417100834.post-882724212655858324</id><published>2009-12-20T20:56:00.011+08:00</published><updated>2010-07-31T15:16:40.916+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Dakwah: Sebuah Realita</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Untuk mencapai Kelurahan Pintu Kota (10 27' 09,00" LU dan 1250 14' 49,38" BT) dari rumah saya, setidaknya membutuhkan waktu 4 jam perjalanan. Kelurahan yang berada di wilayah Kecamatan Lembeh Utara, Kota Bitung, Propinsi Sulawesi Utara ini adalah salah satu andalan Propinsi Sulawesi Utara untuk menarik wisatawan. Keasrian pantai dan keindahan panorama bawah lautnya memang sangat memukau. Tidaklah mengherankan jika setiap saat dijumpai kapal pesiar dari berbagai negara berlabuh disekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Di Kelurahan Pintu Kota (KPT) terdapat 14 KK muslim, sedangkan 64 KK&amp;nbsp; lainnya beragama Kristen. Hampir seluruh penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan, sisanya adalah petani, buruh, guru, dan karyawan di resort ataupun hotel yang banyak terdapat di sepanjang pantai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Terakhir kalinya, saya mengunjungi KPT untuk tujuan dakwah adalah pada Idul Adha kemarin (sekitar 7 bulan yang lalu). Sesudah itu, saya tidak pernah berkunjung lagi ke KPT. Dan ketika liburan sekolah seperti saat ini, saya "menyempatkan diri" bersilaturahmi kesana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kenapa saya menggunakan istilah "menyempatkan diri"? Pertama, karena memang jarak yang jauh tidak memungkinkan untuk saya fokus kesana. Setidaknya 3 kota (Manado, Airmadidi, dan Bitung) harus dilewati untuk mencapai KPT. Kedua, saya harus konfirmasi dan membuat appointment dengan mereka untuk mengumpulkan mereka di satu tempat dan mengadakan pengajian "massal". Jika tidak, maka kita tidak akan menemui seorang laki-laki pun di KPT. Menjelang malam, dermaga dipenuhi laki-laki dewasa, naik perahu mencari ikan, demi makan esok hari. Semalaman mereka melaut, tiba di rumah biasanya jam 8 pagi. Istirahat hingga siang. Setelah itu mereka sibuk kembali mempersiapkan diri dan perlengkapan untuk kembali melaut. Kapan kita bisa dakwahi mereka?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Satu-satunya jalan adalah dengan bergerilya. Mendatangi mereka di rumah-rumah. Meskipun dengan mendatangi rumah mereka, menyimpan lara dan perih yang memenuhi rongga dada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Pada kunjungan kali ini, ada sebuah keterkejutan dalam diri yang sulit untuk diredam. Betapa ummat ini telah demikian carut-marut dikoyak kebodohan dan kemiskinan. Sudah lebih dari 3 tahun saya mengenal kamonitas ini. Dan tidaklah saya pernah menjumpai kemerosotan ukhuwah dan iman melebihi apa yang tengah terjadi pada mereka saat ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Bermula dari "pemanfaatan" tanah wakaf untuk kepentingan pribadi. Maka terbagilah masyarakat muslim KPT menjadi dua kubu. Masyarakat yang pro pada imam masjid, yang memanfaatkan tanah wakaf tersebut dan masyarakat muslim yang anti pada imam masjid. Mereka menuduh imam masjid telah memanfaatkan tanah wakaf masjid untuk membangun rumah bagi keluarganya. Astaghfirullah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Dan untuk menyelesaikan sengketa tersebut, pagi ini (22 Juni 2009) dua kubu tersebut insya Allah akan bermusyawarah yang dimediasi oleh Lurah, Camat, Kapolsek dan Danramil. Yang bersengkata sesama muslim yang memediasi non-muslim semuanya. Masya Allah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Apapun hasil dari musyawarah tersebut, bagi saya pribadi, tidak akan pernah menguntungkan bagi ummat KPT. Ukhuwah sudah terlanjur pecah. Dan saya mengenal betul temperamen warga KPT.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Bagi saya, tidak ada kata gagal dalam berdakwah. Hanya saja untuk kasus KPT, terdapat banyak inefisiensi dan ketimpangan dalam proses dakwah. Antara lain sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Pertama, ketiadaan da'i lokal (anak daerah) yang berdakwah di KPT. Memang mustahil jika kita mau berharap saat ini ada da'i dari masyarakat KPT sendiri. Akan tetapi bukankah banyak da'i yang sesuku bangsa dengan mereka. Yang memahami bahasa daerah, temperamen, wakta, dan tipikal psikologis serta budaya mereka. Yang tinggal di sekitar mereka. Lalu mengapa mereka tidak berdakwah di sana?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kedua, kemiskinan tidak bisa dihilangkan hanya dengan ceramah. Harus ada skema pemberdayaan ekonomi ummat yang mensinergikan da'i dengan para aghniya'. Pemberdayaan ini menyangkut da'i dan mad'u sekaligus. Berdakwah di KPT jangan berharap mendapat uang jalan ataupun salam tempel. Tidak ada dan tidak mungkin. Oleh karenanya, aghniya harus memikirkan skema pemberdayaan untuk da'i. Yang lebih penting lagi adalah skema pemberdayaan untuk mad'u. Bagaimana masyarakat dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan layak. Sehingga ummat tidak mudah tersulut untuk bersengketa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ketiga, harus ada skema pendidikan yang efektif untuk anak-anak mereka. Sehingga dikemudian hari ada da'i dan guru yang memang berasal dari komunitas mereka sendiri. Yang ketika mereka menasihati sesamanya, tidak akan pernah ada stigma mencampuri urusan orang lain. Yang ini, sekali lagi harus mensinergikan kekuatan da'i dan aghniya'. Da'i mengajar dan agniya' (dermawan) memberikan beasiswa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Jika ini berjalan, insya Allah dakwah akan semakin lapang.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436782417100834-882724212655858324?l=torelenggi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://torelenggi.blogspot.com/feeds/882724212655858324/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://torelenggi.blogspot.com/2009/12/dakwah-sebuah-realita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436782417100834/posts/default/882724212655858324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436782417100834/posts/default/882724212655858324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://torelenggi.blogspot.com/2009/12/dakwah-sebuah-realita.html' title='Dakwah: Sebuah Realita'/><author><name>Cak Arifin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10604346682999002569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_YvvleS8SBWM/SfPBlxm7_oI/AAAAAAAAAD0/2FJ9k0rmBvs/S220/arifin_photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436782417100834.post-674595012300917538</id><published>2009-05-05T05:49:00.008+08:00</published><updated>2010-07-31T15:17:14.702+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sains Islam'/><title type='text'>Mukjizat Dibalik Lafadz ALLAH: Sebuah Temuan Ilmiah</title><content type='html'>Beberapa hari ini tertarik untuk mempelajari sholat. Kembali membaca beberapa buku yang sudah ada dan menyisihkan anggaran belanja untuk berburu buku baru. Hingga akhirnya "terpukau" pada buku &lt;b&gt;Mukjizat Gerakan Sholat: Penelitian Dokter Ahli Bedah dalam Pencegahan dan Penyembuhan Penyakit&lt;/b&gt; karangan dr. Sagiran, M.Kes.,Sp.B. Pada halaman 42 beliau menuliskan tentang penelitian seorang ahli psikologi Belanda tentang efek psikologis pengucapan lafadz Allah bagi pasien psikologis dan orang normal. Berikut kutipannya:&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Seorang ahli psikologi dari Belanda, Professor Vander Hoven (2002) mengumumkan temuan barunya dari penelitian tentang pengaruh membaca Al Qur'an dan pengucapan berulang-ulang kata "ALLAH" baik pada pasien maupun orang normal. Penelitian dilakukan pada subjek selama tiga tahun. Beberapa pasiennya bahkan ada yang non-muslim, beberapa lainnya tidak berbahasa Arab sebagai bahasa ibu tetapi dilatih untuk dapat mengucapkan kata Allah menurut tata cara pengucapan Bahasa Arab (Alloh-red). Hasil penelitiannya sungguh menakjubkan terutama pada mereka yang menderita depresi dan tekanan psikologi. Harian Arab Saudi Al Watan melaporkan bahwa profesor itu menyimpulkan, mereka orang muslim yang membaca Al Qur'an dengan teratur dapat mencegah penyakit-penyakit psikologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut profesor itu menjelaskan, bahwa setiap huruf dari kata ALLAH itu mempengaruhi penyembuhan psikologis. ternyata pengucapan ini tidak pernah ditemui pada bahasa-bahasa lainnya di dunia. Secara fisiologis, pengucapan huruf pertama yakni "A (alif di fathah)" melapangkan sistem pernafasan, berfungsi mengontrol gerak nafas. Kemudian saat mengucap konsonan "L (Lam di sukun)" menurut cara oarang Arab dengan lidah tertarik ke langit-langit dan sedikit tergelincir di bagian rahang atas, sejenak tertahan sebelum kemudian mengucapkan bunyi "LOH", membentuk ruang tertentu di dalam mulut. Jeda yang pendek dan kemudian disusul dengan jeda yang sama secara berurutan ini menimbulkan pengaruh yang nyata terhadap relaksasi pernafasan. Juga, pengucapan huruf terakhir yaitu "H (Ha' di sukun)" membuat kontak antara paru-paru dan jantung dan pada gilirannya kontak ini dapat mengontrol denyut jantung.&lt;/blockquote&gt;Penelitian yang dilakukan oleh seorang non-muslim ini banyak mendapat tanggapan dari pihak muslim dan non-muslim. Terdapat banyak blog maupun website yang mempublikasikannya. Beberapa diantaranya adalah &lt;a href="http://www.maroc.nl/forums/showthread.php?t=215997" target="_blank"&gt;forum maroc&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.talklfc.com/forums/index.php?s=c666f90d0910f52ae98bc59224b212b1&amp;amp;showtopic=29035&amp;amp;st=0&amp;amp;p=976925&amp;amp;#entry976925" target="_blank"&gt;forum talklfc&lt;/a&gt;. Sengaja saya tampilkan link forum diskusi agar pembaca bisa merasakan atmosfer diskusi tentang hal ini. Tidak semua pihak menerima hasil penelitian Profesor Vander Hoven ini. Sebuah &lt;a href="http://www.faithfreedom.org/Articles/THHuxley50926.htm" target="_blank"&gt;situs non-muslim&lt;/a&gt; (yang sepertinya juga anti Islam) menyebut penelitian ini dengan &lt;i&gt;Islamic Pseudo-Science&lt;/i&gt;. Menurut saya, kritik yang mereka sampaikan ada positifnya. Dalam penelitian ini memang tidak dijelaskan biodata Profesor Vander Hoven, metodologi penelitian, nama media atau jurnal resmi yang mempublikasikannya, dan yang lain sebagainya. Akan tetapi itu hanyalah sebuah apologi defensif, yang tidak mengurangi substansi penelitian fenomenal ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436782417100834-674595012300917538?l=torelenggi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://torelenggi.blogspot.com/feeds/674595012300917538/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://torelenggi.blogspot.com/2009/05/mukjizat-dibalik-lafadz-allah-sebuah.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436782417100834/posts/default/674595012300917538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436782417100834/posts/default/674595012300917538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://torelenggi.blogspot.com/2009/05/mukjizat-dibalik-lafadz-allah-sebuah.html' title='Mukjizat Dibalik Lafadz ALLAH: Sebuah Temuan Ilmiah'/><author><name>Cak Arifin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10604346682999002569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_YvvleS8SBWM/SfPBlxm7_oI/AAAAAAAAAD0/2FJ9k0rmBvs/S220/arifin_photo.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436782417100834.post-3619107463167946948</id><published>2009-04-28T11:39:00.008+08:00</published><updated>2010-07-31T15:17:42.947+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Techno'/><title type='text'>To Do List Setelah Punya Blog Baru</title><content type='html'>Tulisan ini berisi tentang hal yang perlu Anda lakukan setelah membuat sebuah blog di blogger. Bukan berarti dengan tulisan ini saya lebih tahu dari Anda. Saya tetaplah seorang newbie. Jadi tulisan ini dari newbie, oleh newbie, dan untuk newbie. Ini dia to do  list bagi Anda...&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pilihlah template yang sesuai dengan "kepribadian" dan tujuan blog Anda&lt;/span&gt;. Kalau blognya berisi tentang berita ada baiknya memakai template bertema magazine. Kalau blog yang menulis curhat dan diary, carilah template yang berwarna-warni, berbunga, header yang besar, unik, dan personal. Kalau tema blognya serius, maka carilah template yang serius. Dan ada banyak template gratis di internet, dan salah satu gudang favorit saya adalah &lt;a href="http://btemplates.com/" target="_blank"&gt;blogger templates&lt;/a&gt;. Disana terdapat ratusan template gratis yang telah dikelompokkan dengan baik.&lt;/li&gt;&lt;br?&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Buat menu Read More&lt;/span&gt;. Jika kita menggunakan Wordpress, fungsi read more sudah beres dari sononya. Tapi pada Blogger, kita harus sedikit mengerutkan kening untuk membuat fungsi read more. Tapi nggak perlu bingung, sekarang ada beberapa panduan buat newbie yang bisa dipakai untuk meringkas postingannya dengan fungsi read more. Ada beberapa sumber yang bisa dijadikan bahan belajar antara lain &lt;a href="http://www.eblogtemplates.com/how-to-add-the-blogger-read-more-expandable-posts-link/" target="_blank"&gt;eblogtemplates&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.techknowl.com/2008/11/add-read-more-in-blogger-posts.html" target="_blank"&gt;techknowl&lt;/a&gt;. Keduanya sudah saya ujicobakan dan berhasik dengan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika Anda menemui kendala dengan bahasa, maka sebaiknya Anda berkunjung ke blognya &lt;a href="http://www.o-om.com/2007/12/cara-buat-readmore-pada-blogger.html" target="_blank"&gt;Agus Ramadhani&lt;/a&gt;. Selain menyediakan fungsi read more manual, dia juga menyediakan panduan untuk memasang &lt;a href="http://www.o-om.com/2009/04/cara-pasang-auto-read-more-terbaru-part.html" target="_blank"&gt;read more otomatis&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pasang widget komentar terkini atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;recent comments&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Ini penting, sebagai upaya untuk menghargai komentar pengunjung dengan menampilkannya di homepage. Dan katanya, kadang orang komentari postingan kita karena cuma pengen komentarnya muncul di homepage blog, dan tentunya agar kita balik komen di blognya dia. Dan cara gampang untuk pasang widget ini adalah di &lt;a href="http://blogger-templates.blogspot.com/2007/03/recent-comments.html" target="_blank"&gt;blogger-templates&lt;/a&gt;. Akan tetapi berdasar pengalaman saya, widget ini sering ngadat. Tapi, sekali lagi jangan khawatir, masih ada panduan dari Amanda yang dijamin nggak bakal ngadat, tapi Anda harus sedikit mengerutkan dahi memasang &lt;a href="http://www.bloggerbuster.com/2008/08/easy-peasy-recent-comments-widget-for.html" target="_blank"&gt;hack ini&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;/br?&gt;&lt;/ol&gt;Sementara itu dulu yang bisa saya bagi. Untuk penjelasan lebih lanjut, mungkin saya akan menuliskanya dalam posting lain atau berupa update pada posting ini. Jika ada masalah silahkan tulis dikomentar atau tanya langsung sama yang bikin tutorial (sudah ada di link). Semua hal di atas sudah saya coba sendiri dan berhasil, semoga Andapun demikian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436782417100834-3619107463167946948?l=torelenggi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://torelenggi.blogspot.com/feeds/3619107463167946948/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://torelenggi.blogspot.com/2009/04/3-hal-terpenting-setelah-punya-blog.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436782417100834/posts/default/3619107463167946948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436782417100834/posts/default/3619107463167946948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://torelenggi.blogspot.com/2009/04/3-hal-terpenting-setelah-punya-blog.html' title='To Do List Setelah Punya Blog Baru'/><author><name>Cak Arifin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10604346682999002569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_YvvleS8SBWM/SfPBlxm7_oI/AAAAAAAAAD0/2FJ9k0rmBvs/S220/arifin_photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436782417100834.post-637302152775716627</id><published>2009-04-26T08:52:00.006+08:00</published><updated>2010-07-31T15:18:37.135+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Nenek, Apakah Agamamu?</title><content type='html'>Hari Jum'at menjelang Ashar. Sambil merapikan kertas dan perlengkapan kantor lainnya, sekilas terlihat seorang wanita tua memasuki gerbang pesantren kami. Sebenarnya ada sebuah lonjakan aneh di otak ini, yang memaksa untuk memanggil sebuah memori yang tersimpan di bagian arsip terbawah, tapi rasa ingin cepat pulang menekan itu semua. Bukannya tidak peduli, tapi peristiwa seperti itu sudah sangat terlalu biasa dalam keseharian kami.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oma (panggilan orang Manado untuk nenek) penjual kangkung, oma penjual pisang, oma penjual daun singkong dan bunga pepaya, dan oma-oma penjual barang kebutuhan dapur umum untuk santri kerap berlalu lalang. Mereka langsung ke bagian dapur umum menawarkan barang bawaannya, jarang sekali berhubungan dengan bagian administrasi kependidikan, bagianku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi rupanya tidak dengan sore hari itu. Nenek tersebut, diantar dua orang santri menuju kantor dan "Assalamu 'alaikum". Nenek itu mengucapkan salam dengan baik dan benar. Meskipun makhraj huruf 'ain-nya tak sebaik orang pesantren, tapi setidaknya sama dengan pejabat-pejabat Departemen Agama. Setelah dipersilahkan duduk sang nenekpun bercerita, "Kita ini kwa dari Manado, ada pigi lia tape cucu di Kampung Jawa. Serta sampe disana, nintau dorang ada pigi Ambon kasiang. Kita mo jual tape baju ini for vrag ke Manado". Artinya, nenek ini dari Manado (&amp;gt; 30 km dari pesantren). Ingin melihat cucunya di Kampung Jawa (&amp;gt; 6 km dari pesantren). Eh, setelah sampai di tujuan ternyata sang cucu ternyata sedang pergi ke Ambon. Dan ini nenek ingin menjual bajunya (terbungkus dalam sebuah tas plastik hitam kumal) untuk biaya pulang ke rumahnya di Manado. Kira-kira begitulah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang nenek itupun membuka bungkusannya, tapi segera kutahan dengan menanyakan berapa kebutuhannya. Angka nominal disebutkan dalam satuan rupiah, dan nilai yang sama kukeluarkan dari dompet. Setelah meminta satu gelas air minum, sang nenekpun berpamitan, dengan mengatakan "Semoga Allah memberkati, Assalamu 'alaikum....". Lafadz Allah disebutkan sang nenek dengan tepat secara ilmu tajwid, yakni terdapat penebalan bacaan "lah", sehingga kurang lebih terdengar Alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, sejak sang nenek masuk pintu kantor tadi. Pemanggilan memori yang tadinya aku abaikan ternyata tak bisa ditahan. Ia hadir begitu saja, tanpa diminta dan tanpa sengaja. Dan ada sebuah keanehan yang terus menjarah rasa husnudh dhon-ku. Kejadian yang baru saja terjadi, sama persis dengan kejadian beberapa bulan yang lalu, sama persis. Skenario dan aktornya sama, hanya setting tempat dan waktunya yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya begini. Beberapa bulan yang lalu, ketika aku nge-net di sebuah warnet, berjarak lebih dari 1 km dari pesantren. Kebetulan (meskipun pada dasarnya di dunia ini tak ada yang kebetulan) pakai komputer di dekat pintu masuk. Sekonyong-konyong masuk seorang nenek menawarkan baju yang di bungkus tas plastik hitam kumal untuk ongkos pulang. Nenekpun berkisah bahwa ia dari Manado menuju Kampung Jawa untuk menjenguk cucunya. Setelah sampai disana, ehh... sang cucu malah sedang keluar pulau, ke Ternate. Dan dia kehabisan uang, karena dari sang cuculah ia mengaharap uang untuk pulang. Tanpa pikir panjang aku keluarkan uang dari saku kemeja, uang kembalian angkot. Nenekpun berterima kasih dan mendo'akanku "Semoga Tuhan Yesus Memberkati".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengingat-ingat peristiwa itu bukan karena infaq tersebut, bukan karena do'anya. Tapi malahan dikarenakan jumlah uang yang telah kuberikan kepadanya, yakni Rp 8.000,00 (Delapan Ribu Rupiah). Jika nenek itu benar-benar kehabisan uang sejak sampai di rumah cucunya, maka dia telah berjalan sejauh 5 km untuk mencapai warnet ini dan bertemu denganku di siang hari terik itu. Dan dengan uang delapan ribu di tangan apa yang bisa dilakukan. Untuk sampai ke Manado, pertama ia harus naik angkot ke terminal, karena tidak ada bus antar kota yang melintas di depan warnet yang berada di pusat kota, bus kota hanya lewat ring road. Dan ongkos angkot ke terminal adalah dua ribu rupiah, kecuali ia lebih memilih berjalan sejauh 3 km melawan sengatan matahari yang tak bersahabat dengannya. Setelah itu, ia harus naik bus antar kota Tomohon - Manado. Dan itu artinya enam ribu rupiah. Kecuali ia memilih untuk berjalan sejauh 25 km, menyusuri jalan-jalan pegunungan, hutan dan jurang, hanya sesekali melihat perumahan. Dan apabila ia memilih naik kendaraan, maka delapan ribu yang ia pegang habis lunas. Lalu bagaimana ia sampai ke rumahnya. Sedangkan Manado begitu luas. Tak henti-hentinya aku menyesali diri. Menyesali diri, sambil googling makalah tentang Perang Salib untuk seorang teman yang telah membayar uang lelah sebesar lima puluh ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hari Jum'at, menjelang Ashar, nenek itu kembali hadir dengan fragmen cerita yang sama. Hanya kali ini ada yang berbeda. Pertemuan pertama ia berdoa "Semoga Tuhan Yesus Memberkati" dan pertemuan kedua "Semoga Allah Memberkati". Kesamaan modus dan perbedaan do'a inilah yang terus menerus menjarah rasa husnudh dhon-ku. Kenapa kemalangan yang sama bisa terjadi dua kali pada orang yang sama, kemalangan yang sangat spesifik? Jangan-jangan... Cut! pikiran ini kupotong sebelum benar-benar membatalkan amalanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagaimana dengan do'anya? Pada pertemuan pertama aku yakin ia seorang Kristen. Dan aku tidak peduli itu. Bukankah Islam itu kaafatan lin naas (Islam untuk semua manusia). Artinya seorang muslim tak mempedulikan agama, ras, suku, gender, dan apapun pengkategoriannya untuk berbuat baik pada seseorang. Bahkan lebih dari itu Islam adalah rahmatan lil 'alamiin. Artinya, jangankan pada sesama manusia, kepada hewan, tumbuhan, gunung, lautan, dan bahkan luar angkasa sekalipun, seorang muslim wajib berbuat baik, menunjukkan Islam sebagai rahmat. Seandainya, pada pertemuan kedua ia konsisten dengan do'anya, akupun takkan bertanya-tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau jangan-jangan ia seorang muslimah. Jika demikian mengapa do'a pertamanya Semoga Tuhan Yesus Memberkati, bukankah cukup dengan Semoga Tuhan Memberkati. Yang jelas ketika di warnet ia mungkin menganggapku seorang Kristen, karena di komunitas 5% muslim di Tomohon, sangatlah susah menjumpai seorang muslim di tengah kerumunan. Atau jangan-jangan ia seorang muallaf. Semua keraguan dan pertanyaan diatas boleh terjadi padanya, dan itu adalah haknya untuk memilih agamanya. Lakum Diinukum wa Liya Diin. Hanya saja aku berharap ia bukan termasuk orang yang menjual agamanya, menyesuaikan agamanya dengan orang yang telah berbuat baik atau yang ingin ia raih simpatinya. Karena yang demikian itu sudah banyak di negeri ini, dan sangat besar kerusakan yang diakibatkannya. Semoga Allah membimbing kita dan membersihkan niat kita. Amiin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436782417100834-637302152775716627?l=torelenggi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://torelenggi.blogspot.com/feeds/637302152775716627/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://torelenggi.blogspot.com/2009/04/nenek-apakah-agamamu.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436782417100834/posts/default/637302152775716627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436782417100834/posts/default/637302152775716627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://torelenggi.blogspot.com/2009/04/nenek-apakah-agamamu.html' title='Nenek, Apakah Agamamu?'/><author><name>Cak Arifin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10604346682999002569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_YvvleS8SBWM/SfPBlxm7_oI/AAAAAAAAAD0/2FJ9k0rmBvs/S220/arifin_photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436782417100834.post-9214194464009549100</id><published>2009-04-05T10:57:00.025+08:00</published><updated>2010-07-31T15:19:22.170+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh Islam'/><title type='text'>Hukum Transfusi Darah</title><content type='html'>Hukum asal dalam pengobatan adalah bahwa pengobatan hendaknya menggunakan sesuatu yang diperbolehkan menurut syari’at. Namun apabila tidak ditemui cara lain untuk menambah daya tahan dan mengobati orang sakit kecuali dengan darah orang lain, dan ini menjadi satu-satunya usaha menyelamatkan orang sakit atau lemah, dan para ahli memiliki dugaan kuat bahwa ini akan memberikan manfaat pada si pasien, maka dalam kondisi demikian &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;diperbolehkan&lt;/span&gt; untuk mengobati dengan menggunakan darah orang lain. Berdasarkan firman Allah SWT:&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Artinya: “Sesungguhnya Allah Hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 173)&lt;/blockquote&gt;Dan pada ayat yang lain &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Artinya: “Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal Sesungguhnya Allah Telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya...” (QS. Al-An’am: 119)&lt;/blockquote&gt;Dari uraian di atas terdapat tiga hal yang harus dipertimbangkan dalam melakukan transfusi darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;. Siapakah orang yang akan diberi tambahan darah? Orang yang perlu diberi tambahan darah ialah orang yang sakit atau terluka, yang keberlangsungan hidupnya sangat bergantung pada transfusi darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;. Siapakah si pendonor darah? Si pendonor darah adalah orang yang tidak terancam resiko jika ia menodonorkan darahnya. Berdasarkan keumuman sabda Rasulullah SAW: &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Artinya: “Tidak membahayakan diri dan orang lain.” [Riwayat Imam Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syekh Muhammad Nashiruddi al-Albani]&lt;/blockquote&gt;Bagaimana jika pendonornya adalah seorang non-muslim?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menggunakan dalil-dalil dari Al Qur’an sebagaimana tersebut di atas, maka melakukan transfusi darah dari non-muslim hukumnya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;boleh&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ketiga&lt;/span&gt;, siapakah yang menjadi rujukan dalam hal perlu tidaknya transfusi darah ini? Orang yang didengar ucapannya dalam masalah perlu tidaknya transfusi darah ini adalah dokter muslim. Jika kesulitan mendapatkannya, maka diperbolehkan (bahkan tidak ada larangan) untuk mendengar ucapan dari dokter non-muslim, jika ia ahli dan dipercaya banyak orang. Dalilnya yaitu kisah yang terdapat dalam hadits shohih, bahwa pada saat melakukan hijrah, rasulullah SAW menyewa seorang musyrik yang lihai sebagai pemandu jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirangkum dari: al-Fatawa al-Muta'alliqah bith Thibbi wa Ahkaami al-Mardha, hal 346 - 349)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436782417100834-9214194464009549100?l=torelenggi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://torelenggi.blogspot.com/feeds/9214194464009549100/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://torelenggi.blogspot.com/2009/04/hukum-asal-dalam-pengobatan-adalah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436782417100834/posts/default/9214194464009549100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436782417100834/posts/default/9214194464009549100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://torelenggi.blogspot.com/2009/04/hukum-asal-dalam-pengobatan-adalah.html' title='Hukum Transfusi Darah'/><author><name>Cak Arifin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10604346682999002569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_YvvleS8SBWM/SfPBlxm7_oI/AAAAAAAAAD0/2FJ9k0rmBvs/S220/arifin_photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436782417100834.post-7370732514574786502</id><published>2009-03-25T08:39:00.017+08:00</published><updated>2010-07-31T15:20:06.791+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Catatan Untuk Adiknya Faqih (1)</title><content type='html'>Setelah vakum selama 2 tahun 7 bulan, rahim istri tersayang terisi kembali. Tadinya sih sempat cemas, jangan-jangan Faqih bakalan jadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;the one and only son for us&lt;/span&gt;. Dahulu kami menikah secara berjama’ah dengan 4 pasang mempelai yang lain, dalam prosesi nikah barokah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;a la&lt;/span&gt; Hidayatullah. Dan kami menjadi yang tercepat dalam “memproduksi kader”. 10 bulan pasca nikah lahir Faqih Mukhtar.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus berlanjut, dan tak terasa usia Faqih sudah mendekati 3 tahun, dan 3 pasangan yang dulunya kami lewati, kini sudah berstatus 2 anak semua. Terus terang sejak Faqih berusia 2 tahun kami berniat memberikan adik buatnya. Semua normal, tapi kenapa yang dulunya cepat, bahkan terkesan tidak sengaja (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;just kidding&lt;/span&gt;), begitu diniatkan, direncanakan, dan diazamkan malah tersendat. Jangan-jangan ada kendala internal, itu yang sempat terlintas di benak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggun (panggilan buat istri tersayang ketika lagi bulan madu), sempat beberapa kali terlambat bulan, tapi akhirnya datang juga. Sampai akhirnya 2 bulan yang lalu. Ia terlambat datang bulan plus ritual muntah-muntah. Dan itu artinya hamil. Insya Allah wal Hamdu liLLah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti ketika mengandung Faqih, kali ini Anggun lebih agresif dalam MENGIDAM. Ronde pertama ia minta dibuatkan (bukan dibelikan loh) &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tinutuan &lt;/span&gt;(Bubur Manado) plus&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Cakalang Fufu&lt;/span&gt; (Tongkol/Tuna Asap). Terang aja saya KO di ronde pertama. Dulu sih sempat bikin, tapi hasilnya jauh dari memuaskan. Akhirnya, terpaksa Anggun diungsikan ke rumah Mertua. Alasannya saya akan ikut pelatihan (kebetulan ada undangan pelatihan) selama 10 hari di Manado, khawatir dia kesepian. Ia sepakat, kami berangkat. Aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktunya telah tiba untuk menjemput Anggun, karena 10 hari telah berlalu. Tengah hari, terik, panas. Perjalanan laut yang biasanya semilir, kini bersimbah keringat asin. Sama asinya dengan air laut di Selat Lembeh. Sampai di rumah, salam, cium tangan ibu mertua. Hanya ibu mertua karena penghuni rumah yang lain memilih menyerah, berbaring, tengkurap, atau telentang tidur daripada berjuang menyelesaikan sisa pekerjaan dan tugas melawan matahari. Langsung ke dapur, mencari air minum yang sejak tadi dirindukan. Begitu tiba di dapur, segera mata ini tertuju pada sebuah tumpukan berbagai jenis umbi-umbian yang sulit disembunyikan. Ubi jalar, singkong, talas, termasuk pisang. Ternyata, Anggun tidak mau makan nasi. Jadi alternatifnya umbi-umbian plus pisang. Ronde kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ronde ketiga, ia berganti minta dicarikan rambutan. Buah yang musimnya sudah paripurna 6 bulan yang lalu. Mau cari dimana? Tapi demi istri, rambutanpun diburu dimanapun ia berada. Pasar tradisional, diubek-ubek, jangankan buahnya, bijinyapun gak kelihatan. Laporan disampaikan dan laporan ditolak. Anggun masih bersikeras minta rambutan. Alternatifnya, cari di mal-mal dan supermarket-supermarket yang ada di Manado. 30 km dari rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir seharian, keluar masuk supermarket. Tanya pada SPGnya, jawabannya satu, nihil. Sekarang tinggal merancang laporan agar diterima. Seketika saya teringat tafsirnya Buya Hamka, mengenai hadits tentang kalo perempuan itu seperti tulang rusuk. Didiamkan bengkok, dilurusin patah. Beliau mengatakan (kurang lebih) untuk mempengaruhi dan mengarahkan perempuan ke jalan yang “benar”, pendekatan berbasis emosi jauh lebih efektif ketimbang pendekatan berbasis logika. Tak ada salahnya mencoba rekomendasi beliau. Sayapun mengiba. Rambutan tidak ada, supermarket dari ujung utara sampai selatan sudah dijelajahi, mal-mal di ujung barat sudah penuh dengan bekas telapak sandal saya, tinggal satu satu mal di ujung timur. Kalau tidak ada rambutan di mal terakhir itu sudikah Anggung mengganti permintaan. Abi sudah kelaparan, kehausan, dan kelelahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cling, rekomendasi Buya Hamka sukses. Rambutan berganti dengan jeruk dan salak besar. Kalau yang dua ini, biar dimana saja bakalan dapat, asal jangan cari di bengkel motor. Alhamdulillah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436782417100834-7370732514574786502?l=torelenggi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://torelenggi.blogspot.com/feeds/7370732514574786502/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://torelenggi.blogspot.com/2009/03/setelah-vakum-selama-2-tahun-7-bulan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436782417100834/posts/default/7370732514574786502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436782417100834/posts/default/7370732514574786502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://torelenggi.blogspot.com/2009/03/setelah-vakum-selama-2-tahun-7-bulan.html' title='Catatan Untuk Adiknya Faqih (1)'/><author><name>Cak Arifin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10604346682999002569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_YvvleS8SBWM/SfPBlxm7_oI/AAAAAAAAAD0/2FJ9k0rmBvs/S220/arifin_photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436782417100834.post-8186322502666294912</id><published>2009-03-05T14:33:00.008+08:00</published><updated>2010-07-31T15:20:42.283+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Isu Global'/><title type='text'>Sampai Kapan Kita Boikot Israel</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_YvvleS8SBWM/Sa_0c5abTuI/AAAAAAAAAAc/BoUUCzgxopM/s1600-h/FOR_GAZA_by_AnubisGraph.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309731262978281186" src="http://4.bp.blogspot.com/_YvvleS8SBWM/Sa_0c5abTuI/AAAAAAAAAAc/BoUUCzgxopM/s320/FOR_GAZA_by_AnubisGraph.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 200px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;Beberapa hari yang lalu (saya lupa tepatnya, tapi saya masih ingat kalau saat itu serangan Israel ke Gaza sedang memanas), seorang kolega Kristen saya menelpon. Mengajak berdiskusi tentang suatu hal yang pernah kami diskusikan sebulan sebelumnya. Dia meminta saya menentukan waktu dan tempatnya. Saya jawab bagaimana kalau hari itu saja, karena kebetulan saya sedang berada di Manado. Tak setiap hari atau bahkan tak setiap minggu saya “turun” ke Manado. 60 Km perjalanan (PP) dan minimal 20 ribu saya habiskan untuk ongkos jalan, belum lagi waktu yang tak terhitung nilainya yang harus saya luangkan dalam perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bertanya posisi saya. Saya jawab kalau saya sedang di Gramedia. Dan kebetulan dia ada di konter KFC yang jaraknya tak lebih dari 30 m dari Gramedia. Saya pun memenuhi undangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya datang, mereka (1 orang kolega yang sudah saya kenal, dan 2 lainnya belum) sudah selesai makan, meja sudah bersih, cuma ada beberapa gelas softdrink. Mereka menawari saya untuk pesan makanan dan minuman, tapi saya jawab kalau saya sedang puasa. Merekapun minta pindah lokasi, tapi saya jawab gak perlu. Dimanapun saya berada, akan tetap juga ketemu orang makan. Kalau di Manado, jangankan sekarang, di bulan Ramadhan pun banyak orang makan di tempat umum. Mereka sepakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir dua jam kami berdiskusi, dan lalu-lalang di depan saya saudara-saudara se-aqidah yang sedang “menikmati” menu Combo-nya KFC. Mereka saya kenali ke-Islamannya dari cara berpakaian, cara bicara dan cara berdo’anya (alhamdulillah, mereka masih sempat berdo’a sebelum makan). Bahkan di lantai 3 (tepat di atas saya) seorang anak muslim sedang merayakan ulang tahun ke-empatnya. Puluhan undangan yang sebagian besar muslim, bergiliran naik ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diskusi, yang mirip dengan curhat atau malah presentasi itu, saya lebih banyak mendengar atau malah pura-pura mendengar (Saya tidak perlu khawatir ini akan menyinggung teman Kristen saya, karena setelah diskusi saya menyampaikan uneg-uneg ini). Yang bergemuruh dalam pikiran saya adalah apakah saudara-saudara se-iman saya, yang berada di kanan, di kiri, depan, belakang, bawah dan atas saya tidak tahu kalau KFC termasuk produk yang diboikot, karena secara nyata telah menopang perekonomian Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang bertanggung jawab atas kegilaan ini. Pemerintahkah? Jelas bukan. Mediakah? Jelas bukan, karena semua tahu kalau media-media besar yang menguasai opini publik, selalu menerapkan standar ganda dan memihak Israel. Lalu siapa? Mungkin jawabnya adalah kita. Sudahkah kita mensosialisasikan pemboikotan ini kepada saudara dan teman kita? Atau justru malah kita mungkin lebih gila? Jangankan mempropagandakannya, kita malah tak peduli dengan pemboikotan itu. Kita berapologi dengan berbagai dalih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiadaan barang substitusi, kualitas barang lain yang rendah, sudah terlanjur biasa, adalah justifikasi yang biasa kita pakai untuk terus menerus membeli produk-produk Israel dan kroninya. Mulut kita tak henti-hentinya mengecam kebiadaban mereka, sambil dalam hati berniat untuk beli hp Nokia seri terbaru. Kita galang demo besar-besaran untuk membela Palestina, sambil kesana kemari menggotong dos Aqua (Aqua adalah bagian Danone yang termasuk daftar boikot)  gelas untuk para demonstran. Apa ini bukan kegilaan namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu hampir media massa Indonesia, kecuali yang beraliran liberal (banyak dijumpai di Jakarta) dan Kristen (banyak ditemui di Manado), mengecam kebiadaban Israel. Kekejaman di luar batas peri kemanusiaan itu kita saksikan secara real time, maka ummat pun bereaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang harus disadari bahwa kita ini masih reaksioner. Dan jika kita masih reaksioner, itu artinya yang menggerakkan kita sebenarnya adalah musuh-musuh Islam. Reaksi dan konsekuensi atas tindakan mereka (musuh-musuh Islam) sudah direncanakan dan telah dihitung secara presisi. Jadi bisa jadi, reaksi ummat ini adalah tujuan atau batu loncatan untuk meraih tujuan mereka. Dan itu artinya, reaksi kita adalah kemenangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya butuh rencana dan strategi, agar perjuangan ini mencapai kemengangan dan bukan jadi kuda tunggangan musuh Islam. Termasuk dalam pemboikotan ini. Seperti yang dikatakan oleh Mahatir Muhammad, bahwa tidak mungkin negera memboikot mereka. Yang mungkin melakukannya adalah warga-warga negara. Akan tetapi mustahil juga pemboikotan ini oleh warga negara (baca: masyarakat) akan membawa hasil jika tidak direncanakan dan dikelola oleh sebuah lembaga khusus (LSM, media massa, ormas, atau apapun namanya). Sehingga boikot bukan lagi cara perjuangan yang sifatnya musiman, tapi menjadi sesuatu yang kontinyu dan berkelanjutan. Coba Anda perhatikan sekarang, adakah iklan dan teriakan boikot kita jumpai di media-media? Nyaris tidak ada. Yang ada hanya pada sidebar-sidebar d blog saja. Yang semoga saja mereka memang peduli, bukan karena malas memperbaharui sidebarnya. Jika keadaannya begini, sampai kapan kita akan boikot Israel???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala, saya menerima majalah Hidayatullah edisi Pebruari (berhadiah poster boikot) saya berkirim pesan singkat pada Ust. Haryono, direktur majalah. Bahwa slogan di poster boikotnya kurang emosional. Saya usulkan, “Dengan membeli produk makanan dan minuman Israel, berarti Anda telah mengunyah daging dan meneguk darah bayi-bayi Palestina”. Seketika saya pusing mengingatnya, tatkala diatas saya, di lantai 3, MC acara ulang tahun itu memandu undangan untuk berdoa. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Allahumma baariklana fiima razaqtanaa waqinaa adzaabannar. Amiin Ya Rabbal ‘Alamiin&lt;/span&gt;”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436782417100834-8186322502666294912?l=torelenggi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://torelenggi.blogspot.com/feeds/8186322502666294912/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://torelenggi.blogspot.com/2009/03/sampai-kapan-kita-boikot-israel.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436782417100834/posts/default/8186322502666294912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436782417100834/posts/default/8186322502666294912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://torelenggi.blogspot.com/2009/03/sampai-kapan-kita-boikot-israel.html' title='Sampai Kapan Kita Boikot Israel'/><author><name>Cak Arifin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10604346682999002569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_YvvleS8SBWM/SfPBlxm7_oI/AAAAAAAAAD0/2FJ9k0rmBvs/S220/arifin_photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_YvvleS8SBWM/Sa_0c5abTuI/AAAAAAAAAAc/BoUUCzgxopM/s72-c/FOR_GAZA_by_AnubisGraph.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436782417100834.post-859365429917243021</id><published>2009-03-03T08:11:00.006+08:00</published><updated>2009-12-20T13:50:20.864+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Under Construction</title><content type='html'>Sedikit melelahkan perjalanan mencari dan membuat blog yang sesuai dengan harapan. Sangat melelahkan karena keterbatasan ilmu yang saya punya. Beberapa layanan blog telah dicoba, dengan segala pernak-pernik, kelebihan dan kekurangan (tentunya masih dalam pandangan saya yang buta, yang artinya belum tentu buat Anda), kemudahan dan kesulitan (sekali lagi ya bagi saya, bisa tidak bagi Anda), dan lain sebagainya. Akhirnya saya mencoba di sini, berevolusi dalam sebuah proses panjang yang saya tidak tahu dimana dan kapan berhentinya. Jadi, tidaklah berlebihan kiranya, kalo blog ini akan terus-menerus berada di dalam status "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;under construction".&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436782417100834-859365429917243021?l=torelenggi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://torelenggi.blogspot.com/feeds/859365429917243021/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://torelenggi.blogspot.com/2009/03/under-construction.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436782417100834/posts/default/859365429917243021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436782417100834/posts/default/859365429917243021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://torelenggi.blogspot.com/2009/03/under-construction.html' title='Under Construction'/><author><name>Cak Arifin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10604346682999002569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_YvvleS8SBWM/SfPBlxm7_oI/AAAAAAAAAD0/2FJ9k0rmBvs/S220/arifin_photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
